10 Penyebab dan Solusi Kesalahan Sistem PLC
10 Penyebab dan Solusi Kesalahan Sistem PLC
Dalam beberapa tahun terakhir, PLC menjadi sangat diperlukan dalam produksi industri. Seiring dengan meluasnya penggunaannya, memastikan pengoperasian sistem yang stabil menjadi hal yang sangat penting. Meskipun PLC sendiri sangat andal, pengoperasian yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah. Berikut adalah 10 penyebab kesalahan umum dan solusinya:
1. Masalah Landasan
Sistem PLC memiliki persyaratan grounding yang ketat. Direkomendasikan untuk menggunakan sistem grounding yang independen dan khusus, dan semua peralatan terkait harus diardekan dengan benar. Pengardean yang tidak tepat dapat menyebabkan arus yang tidak terduga, yang menyebabkan kesalahan logika atau kerusakan sirkuit. Titik-titik landasan harus berdekatan satu sama lain. Sistem PLC biasanya menggunakan grounding satu titik. Untuk meningkatkan kemampuan interferensi anti - mode umum, sinyal analog dapat menggunakan teknologi tanah terapung terlindung.
2. Mengatasi Interferensi
Lokasi industri rentan terhadap interferensi frekuensi tinggi dan rendah, sering kali terjadi melalui kabel yang terhubung ke peralatan di lokasi. Selain pengardean yang benar, tindakan antiinterferensi berikut harus dilakukan dalam desain, pemilihan, dan pemasangan kabel:
Untuk sinyal analog, gunakan kabel berpelindung ganda.
Untuk sinyal pulsa berkecepatan tinggi, gunakan kabel berpelindung.
Untuk kabel komunikasi PLC, gunakan kabel yang disediakan pabrikan atau kabel pasangan terpilin berpelindung.
Jangan merutekan jalur sinyal analog, jalur sinyal DC, dan jalur sinyal AC dalam saluran yang sama.
Kabel berpelindung yang dimasukkan ke atau dari kabinet kontrol harus dihubungkan langsung ke perangkat tanpa melewati terminal.
Sinyal AC, sinyal DC, dan sinyal analog tidak boleh menggunakan kabel yang sama. Kabel daya dan kabel sinyal harus dirutekan secara terpisah.
Kiat pemeliharaan di lokasi untuk mengatasi interferensi termasuk menggunakan kabel berpelindung untuk saluran yang terpengaruh dan memasangnya kembali, serta menambahkan kode pemfilteran anti-interferensi ke program.
3. Menghilangkan Kapasitansi Antar Kawat untuk Mencegah Misoperasi
Kabel memiliki kapasitansi yang melekat antar konduktor. Bahkan kabel yang memenuhi syarat pun dapat memiliki kapasitansi berlebihan jika panjangnya melebihi batas yang disarankan. Bila digunakan untuk input PLC, hal ini dapat menyebabkan kesalahan pengoperasian, seperti sinyal input yang salah atau hilang. Solusinya meliputi:
Menggunakan kabel dengan inti bengkok.
Meminimalkan panjang kabel.
Memisahkan input yang mengganggu ke dalam kabel yang berbeda.
Menggunakan kabel berpelindung.
4. Memilih Modul Output
Modul keluaran tersedia dalam tiga jenis: transistor, triac, dan relai:
Modul tipe transistor menawarkan kecepatan peralihan tercepat (biasanya 0,2 ms) tetapi memiliki kapasitas beban terendah (0,2 - 0,3 A, 24 VDC). Mereka cocok untuk perangkat peralihan cepat dan peralatan terkait sinyal, seperti inverter dan perangkat DC. Pertimbangkan efek kebocoran arus transistor pada beban.
Modul tipe triac tidak memiliki kontak dan cocok untuk beban AC tetapi memiliki kapasitas beban terbatas.
Modul tipe relai mendukung beban AC dan DC dan memiliki kapasitas beban tinggi. Mereka biasanya digunakan dalam kontrol konvensional tetapi memiliki kecepatan peralihan yang lebih lambat (sekitar 10 ms), sehingga tidak cocok untuk aplikasi frekuensi tinggi.
5. Penanganan Inverter Over - Tegangan dan Over - Current
Saat mengurangi nilai yang diberikan untuk memperlambat motor, motor memasuki kondisi pengereman regeneratif. Motor menyalurkan energi kembali ke inverter, menyebabkan tegangan kapasitor filter naik dan memicu proteksi tegangan berlebih. Solusi: Pasang resistor pengereman eksternal untuk menghilangkan energi regeneratif.
Ketika beberapa motor kecil dihubungkan ke inverter, kesalahan pada satu motor dapat menyebabkan inverter trip, sehingga menghentikan semua motor. Solusi: Pasang trafo isolasi 1:1 pada sisi keluaran inverter untuk mengisolasi arus gangguan dari inverter.
6. Memberi Label pada Input dan Output untuk Kemudahan Perawatan
Sistem PLC bisa jadi rumit, dengan banyak terminal relai input dan output. Untuk memfasilitasi pemecahan masalah:
Buat meja berdasarkan skema kelistrikan dan letakkan di panel kontrol atau kabinet. Cantumkan setiap nomor terminal masukan dan keluaran PLC beserta simbol kelistrikan dan nama Cina yang sesuai.
Kembangkan tabel fungsi logika input - output PLC untuk menggambarkan hubungan logis antara rangkaian input dan output selama operasi. Dengan tabel ini, teknisi listrik berpengalaman dapat melakukan perawatan tanpa cetak biru.
7. Diagnosis Kesalahan Menggunakan Logika Program
Dengan berbagai jenis PLC yang digunakan, diagram tangga untuk PLC kelas atas seperti S7 - 300 sering ditulis dalam kode mnemonik. Diagram tangga yang efektif harus menyertakan anotasi simbol Cina. Untuk analisis gangguan listrik, metode pencarian terbalik biasanya digunakan. Mulailah dari titik kesalahan, identifikasi relai keluaran PLC yang sesuai, dan telusuri kembali hubungan logis yang diperlukan untuk aktivasinya. Pengalaman menunjukkan bahwa sebagian besar kesalahan berasal dari satu titik.
8. Menilai Kesalahan Mandiri PLC
PLC sangat andal dengan tingkat kegagalan yang rendah. Kerusakan perangkat keras atau kesalahan perangkat lunak pada PLC dan CPU jarang terjadi. Titik masukan PLC kemungkinan besar tidak akan rusak kecuali jika terjadi intrusi tegangan tinggi. Kontak relai keluaran PLC memiliki masa pakai yang lama kecuali kelebihan beban karena korsleting eksternal atau desain yang buruk. Saat memecahkan masalah, fokuslah pada komponen listrik periferal daripada mencurigai adanya masalah pada perangkat keras atau perangkat lunak PLC. Pendekatan ini mempercepat perbaikan dan meminimalkan waktu henti produksi.
9. Memanfaatkan Sepenuhnya Sumber Daya Perangkat Lunak dan Perangkat Keras
Perintah yang tidak terlibat dalam loop kontrol atau diaktifkan sebelum loop dapat dikeluarkan dari PLC.
Untuk beberapa perintah yang mengontrol satu tugas, sambungkan perintah tersebut secara paralel secara eksternal sebelum menghubungkan ke satu titik masukan.
Memanfaatkan komponen lunak internal PLC dan status perantara untuk meningkatkan kesinambungan program dan memudahkan pengembangan. Hal ini juga mengurangi biaya perangkat keras.
Jika memungkinkan, rancang setiap output secara independen untuk memudahkan kontrol, inspeksi, dan perlindungan sirkuit lainnya.
Untuk output yang mengendalikan beban maju dan mundur, terapkan interlocking baik dalam program PLC maupun secara eksternal untuk mencegah pergerakan beban dua arah.
Untuk pemberhentian darurat, gunakan sakelar eksternal untuk memutus aliran listrik demi keselamatan.
10. Tindakan Pencegahan Lainnya
Jangan sekali-kali menyambungkan saluran listrik AC ke terminal input PLC untuk menghindari kerusakan.
Terminal pembumian harus dibumikan secara independen, tidak dihubungkan secara seri dengan peralatan lain. Gunakan kabel ground dengan luas penampang minimal 2 mm².
Catu daya tambahan memiliki kapasitas terbatas dan hanya boleh memberi daya pada perangkat berdaya rendah seperti sensor fotolistrik.
Jangan menghubungkan kabel ke terminal alamat PLC yang tidak digunakan.
Jika tidak ada perangkat pelindung yang dipasang pada rangkaian keluaran PLC, sertakan sekering atau elemen pelindung lainnya pada rangkaian eksternal untuk mencegah korsleting beban merusak sistem.